BANDA ACEH | LENSA KITA – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian melalui Keputusan Mendagri No. 050-145 tahun 2022 tertanggal 14 Februari 2022 yang menetapkan peralihan wilayah administrative empat pulau yang tadinya masuk dalam wilayah Aceh Singkil, dan kini beralih menjadi wilayah Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara (Sumut).
Menanggapi hal itu, anggota Komisi VI DPR-RI asal Aceh, Rafli Kande, menyarankan agar semua stakeholder Aceh perlu duduk bersama. Tidak hanya untuk mendiskusikan peralihan empat pulau dimaksud, namun juga membahas tentang Aceh terkini secara keseluruhan.
Menurutnya, peralihan secara administratif empat pulau tersebut perlu didiskusikan dan disikapi bersama agar tidak menjadi polemik berkepanjangan. Dia menyebutkan, peralihan wilayah secara administratif empat pulau ini kan bukan terjadi tiba-tiba.
“Ada proses panjang yang dilalui sejak bertahun-tahun lalu. Tentu tidak elok jika kemudian kita menyikapinya dengan saling tuding dan mencari-cari pihak yang patut disalahkan, tanpa memahami secara konprehensif semua aspek yang menjadi dasar dimungkinkannya keputusan tersebut lahir,” ujar Rafli Kande di Banda Aceh, Selasa (24/5/2022).
Rafli menyebutkan, semua pemangku kepentingan Aceh perlu duduk bersama serta tanggalkan semua perbedaan demi kesejahteraan Aceh. Oleh sebab itu, DPRA, Forbes, Pemerintah Aceh, Wali Nanggroe, alim ulama, akademisi, dan stakeholder lainnya harus segera duduk bersama.
“Diskusikan semuanya, lalu ambil sikap bersama. Jika kita bersatu dan kompak, Insya Allah tidak hanya soal empat pulau saja, tapi banyak problem Aceh lainnya yang dapat diselesaikan,” jelasnya.
Menurut politikus PKS ini, pihak Kementrian dan Pemerintah Pusat pasti akan mendengarkan aspirasi yang disuarakan bersama. Namun tentu tidak sebatas membuat kesepakatan dan pernyataan bersama saja. Mengadvokasi implementasi dari aspirasi bersama itu juga hal penting yang harus dilakukan.
Dimana Aceh ke depannya benar-benar teradvokasi, tidak hanya wilayahnya namun juga semua aspek sosial politik dan ekonomi yang bisa mensejahterakan rakyat bisa benar-benar terwujud.
“Aceh enggak boleh begini-begini terus dan enggak bisa kemiskinan dibiarkan terus. Kita bisa mengatasinya. Asal para pemimpinnnya kompak dan bersatu. Itu yang membuat kita bisa, Insya Allah, kepada Allah SWT kita bermohon,” ujar seniman Aceh ini.










