Meski ada garis polisi, beberapa orang nekat mencari sisa barang miliknya.
Sekitar 400 bangunan terdiri pertokoan dan perumahan di kawasan Pasar Gembrong, Jakarta Timur hangus dilalap si jago merah. Sejauh mata memandang hanya tinggal puing-puing bekas bangunan terpanggang api. Kerangka tap dan kusen bangunan pun berubah jadi arang. Tidak perabotan rumah tangga yang tersisa, semua menjadi abu. Semuanya lenyap terbakar tanpa sisa hanya dalam hitungan jam.
Hingga Senin (25/4) pukul 09.35 WIB, beberapa petugas pemadam kebakaran masih menyemprotkan air ke puing-puing. Tampak asap putih membumbung setiap sela-sela tumpukan puing disemprot air.
Memang dari pantauan Republika, ada beberapa tumpukan puing yang masih menyimpan panas. Asap putih juga masih keluar dari beberapa titik. Karena itu garis polisi masih terpasang, meski beberapa orang nekat mencari barang-barang miliknya.
Mugiharto, penghuni kawasan Pasar Gembrong, sekaligus korban kebakaran tampak lesu menatap puing-puing bangunan yang nyaris rata dengan tanah. Meski menyayangkan peristiwa naas ini terjadi, tapi tak henti-hentinya dia mengucapkan rasa syukur.
Setidaknya dia bersama keluarganya masih diberi keselamatan. Apalagi anaknya masih balita dan pada saat kejadian anaknya tengah tertidur.
“Alhamdulillah semuanya selamat, anak (bayi) lagi tidur dan api itu munculnya dua rumah dari rumah saya, jadi sangat dekat sekali. Saya suruh anak saya yang paling besar untuk bawa (bayi) dan saya memadamkan api bareng warga,” kata Mugiharto, saat ditemui di tenda pengungsian di Kelurahan Cipinang Besar Utara, Jatinegara, Jakarta Timur, Senin (25/4).
Menurut Mugiharto, bangunan yang terbakar dari RT 2 sampai Rt 6, bahkan RT 4, 5 dan 6 terbakar semua tanpa sisa. Awal titik berasal RT 6 RW 01, yang diduga berasal konsleting listrik. Ia menyayangkan, pemilik rumah baru berteriak meminta bantuan ketika api sudah besar.
Namun Mugiharto tetap bahu membahu berupaya memadamkan api, tapi besarnya api dan kencangnya angin pada saat itu membuat api tak bisa dipadamkan. Justru menjalar ke bangunan-bangunan yang ada di sampingnya.
“Tidak ada harta benda yang bisa diselamatkan, pakaian hanya yang melekat di badan saja. Alhamdulillah berkas-berkas masih sempat diselamatkan,” ungkap Mugiharto.
Nasib yang sama juga menimpa Siti Suryani. Bahkan selain harta benda, berkas-berkas yang, ada di rumah tidak sempat diselamatkan. Semuanya ludes terbakar bersama tempat tinggalnya sekaligus kios miliknya, tersisa hanya baju yang melekat di badan saja.
Dia mengaku, tidak mengetahui jika ada kebakaran hebat yang melanda kawasan Pasar Gembrong tersebut. “Saya nggak tahu ada kebakaran, kareba lagi bukber keluarga di luar. Saya baru waktu turun dari motor api itu sudah besar, mustahil buat saya nyelamatin barang-barang,” ungkap Siti.
Sumber: Republika








