Pidie – Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah atau Dek Fadh, menyatakan dukungan terhadap upaya pemberantasan narkotika di Aceh menyusul pengungkapan laboratorium sabu-sabu ilegal (clandestine laboratory) di Kabupaten Pidie.
Ia mengapresiasi langkah Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), khususnya Polda Aceh, dalam mengungkap keberadaan laboratorium tersebut yang dinilai menjadi ancaman serius bagi masyarakat dan generasi muda.
Dukungan tersebut disampaikan Dek Fadh saat mendampingi Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto, beserta rombongan dalam kunjungan kerja ke Gampong Dayah Tanoh, Kecamatan Mutiara Timur, Pidie, Jumat (23/10/2026).
Setibanya di lokasi, Kapolri bersama rombongan dan Dek Fadh meninjau dua unit rumah toko (ruko) yang dijadikan laboratorium sabu-sabu ilegal oleh pihak asing sebelum mengikuti acara inti.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Ketua DPRA, Kapolda Aceh, Pangdam Iskandar Muda, Kabinda Aceh, Kepala BNN Aceh, Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, serta sejumlah pejabat dan unsur terkait lainnya.
Dek Fadh menilai pengungkapan laboratorium tersebut merupakan langkah penting dalam memutus mata rantai peredaran narkotika sekaligus melindungi masyarakat Aceh dari bahaya penyalahgunaan narkoba.
Ia mengapresiasi kerja aparat kepolisian yang berhasil mengungkap keberadaan fasilitas produksi narkotika tersebut. Menurutnya, upaya pemberantasan narkoba perlu terus diperkuat agar peredaran dan penyalahgunaan narkotika tidak semakin mengancam masa depan generasi muda.
“Pengungkapan ini merupakan langkah penting dalam memutus mata rantai peredaran narkotika serta melindungi masyarakat, khususnya generasi muda Aceh, dari bahaya penyalahgunaan narkoba,” ujar Dek Fadh.
Ia menegaskan, pemberantasan narkotika tidak cukup hanya dilakukan melalui penindakan hukum. Upaya tersebut juga perlu diiringi dengan pencegahan, edukasi kepada masyarakat, serta keterlibatan seluruh elemen dalam mencegah peredaran dan penyalahgunaan narkoba.
Karena itu, Dek Fadh berharap Polri dan seluruh instansi terkait terus memperkuat koordinasi dan kerja sama dalam memberantas narkotika di Aceh.
Menurutnya, sinergi antara aparat penegak hukum, pemerintah, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan yang aman sekaligus melindungi generasi muda dari ancaman narkoba.
Selain mengapresiasi pengungkapan laboratorium sabu ilegal, Dek Fadh juga menyampaikan penghargaan kepada Polri atas bantuan pembangunan hunian tetap (huntap) bagi masyarakat Aceh yang terdampak bencana hidrometeorologi.
Ia menilai bantuan tersebut merupakan bentuk kepedulian Polri dalam mendukung pemulihan kehidupan masyarakat pascabencana.
Dek Fadh berharap sinergi antara Polri dan Pemerintah Aceh terus diperkuat, baik dalam menjaga keamanan dan perdamaian, memberantas narkotika, maupun membantu masyarakat menghadapi berbagai tantangan.
Ia menegaskan bahwa menjaga keamanan dan perdamaian Aceh merupakan tanggung jawab bersama. Melalui kerja sama yang berkelanjutan, ia berharap Aceh dapat menjadi daerah yang aman, damai, dan sejahtera.[]








