Jumat, Juli 24, 2026
  • Login
Lensakita.com
Advertisement
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA
No Result
View All Result
Lensakita.com
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA
No Result
View All Result
Lensakita.com
No Result
View All Result
Home DAERAH

Aren dan Janeng Solusi Selamatkan Hutan di Samarkilang

Febby Andriyani Oleh Febby Andriyani
Jumat (02/12/2022) - 17:30 WIB
in DAERAH
0
aren

Proses pengambilan geta aren (Dok. Junaidi Hanafiah)

“Aren dan janeng (Ubi Hutan) memiliki filosofi bagi masyarakat di Samarkilang. Pada masa lalu saat orang hendak membayar utang namun tidak ada yang diberikan, maka diolah aren untuk bayar utang. Sedangkan janeng merupakan makanan pokok saat mereka paceklik,” ucap Raihal Fajri, Direktur Katahati Institute.

Sehabis hujan lebat, akses jalan menuju Samarkilang yang awalnya kering kini basah kuyup dan berubah warna menjadi kuning kecoklatan. Beberapa kendaraan roda dua terpaksa harus didorong akibat terjebak di lumpur yang menghambat laju roda kendaraan. Mobil truk kayu yang ditumpangi masyarakat Samarkilang terpaksa harus menurunkan penumpangnya. Sementara itu, penumpang laki-laki dengan sigap mendorong mobil sedangkan penumpang perempuan bantu menggoyangkan mobil dari dalam truk kayu berwarna kuning tersebut. Beberapa kali roda mobil itu kembali mundur, mereka harus mendorong lebih kuat agar cepat tiba di Samarkilang. 

Saat hari mulai terang, Samarkilang masih diselimuti kabut. Sesekali terdengar kicauan burung saut menyaut dengan satwa lain yang hidup di dalam hutan yang tak jauh dari pemukiman. Riak air menghempas bebatuan dari sungai berlikuk memberi kesan damai. 

“Sebelum merdeka, Samarkilang itu sudah beridiri dan dikenal dengan nama “Pantan Senia”. Hingga pada masa penjajahan Belanda diganti dengan nama “Samar” yang artinya orang datang dari segala penjuru,” ujar Aman Roma, salah satu tokoh di Samarkilang.

Hutan Samarkilang kaya dengan tetumbuhan seperti Janeng dan Aren yang tumbuh liar di setiap sudut hutan di Samarkilang.

“Aren dan janeng (Ubi Hutan) memiliki filosofi bagi masyarakat di Samarkilang. Pada masa lalu saat orang hendak membayar utang namun tidak ada yang diberikan, maka diolah aren untuk bayar utang. Sedangkan janeng merupakan makanan pokok saat mereka paceklik,” ucap Raihal Fajri, Direktur Katahati Institute.

Berangkat dari kedekatan historis dengan aren dan janeng, masyarakat masyarakat Samarkilang dilatih memanfaatkan dua hasil hutan bukan kayu tersebut menjadi berbagai macam jenis makanan dan minuman yang dapat meningkatkan perekonomian mereka. 

Sebelumnya, masyarakat Samarkilang menggantung kehidupan dengan menjual kayu yang menyebabkan hutan dirambah dan sering terjadi bencana alam seperti longsor.

Aren (arenga pinnata) merupakan tumbuhan khas hutan tropis yang dapat tumbuh liar atau ditanam. Tumbuhan ini banyak tumbuh di hutan Aceh termasuk di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL). Masyarakat memanfaatkan aren sebagai pemanis alami. 

Raihal, Direktur Katahati Institute mengatakan permintaan aren di Aceh sangat tinggi, tidak menutup kemungkinan bahwa hasil hutan bukan kayu dari aren menjadi salah satu sumber ekonomi baru bagi masyarakat Samarkilang.

“Aceh ini dikenal dengan 1001 warung kopi, sehingga permintaan komoditi aren Aceh sangat tinggi dan ini akan sangat membantu perekonomian masyarakat di Samarkilang,” ucap Raihal.

Pengolahan Janeng (ubi hutan)

Ubi hutan (Dioscorea hispida Dents) atau dalam bahasa Aceh disebut janeng merupakan tumbuhan merambat yang dimanfaatkan sebagai makanan pokok.

Usai memasak dan mengantar anak ke sekolah, ibu-ibu berkumpul untuk mencari Janeng. Umumnya Janeng yang akan diolah diambil dari dalam hutan.

Janeng yang telah diambil dibawa ke pinggir sungai kemudian dikupas dengan tipis dan dirajang, ini dilakukan untuk membersihkan buah Janeng dari kandungan racun di dalamnya. Selanjutnya ditaburi garam dan direndam selama kurang lebih dua hari.

“Proses pengolahan janeng butuh beberapa hari, buahnya dikupas dan ditaburi garam, lalu dimasukkan ke dalam karung dan direndam selama tiga hari di air mengalir. Setiap hari dikeluarin dari karung dan diperas,” jelas Umaira, perempuan asal Samarkilang yang giat mengolah janeng (17/10/2022).

Salah seorang ibu mengeluarkan alat tumbuk tangan sederhana, lalu memasukkan Janeng yang sudah dikeringkan tadi lalu ditumbuk hingga halus dan beberapa ibu dan remaja putri lainnya membantu dalam proses pengemasan.

Janeng (ubi hutan) dapat dimanfaatkan dan diolah menjadi tepung dan keripik. Namun proses pengolahan janeng tidak dapat dilakukan sembarangan, karena jika salah bisa menyebabkan keracunan. 

Saat konflik Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dulu, masyarakat di Samarkilang terisolir, tidak dapat membeli makanan pokok ke pusat kota. Mereka kemudian mengolah janeng untuk menggantikan nasi sebagai makanan pokok. 

Pengambilan Aren

Seorang lelaki paruh baya dengan kopiah hitam dan sebilah pisau diikat di pinggang menaiki tangga kayu menuju pohon aren setinggi 1,5 meter. Begitu mencapai dahan, ia goyang-goyangkan dahan-dahan tersebut kemudian mengetuk pohonnya. 

Setelah tujuh hari, batang aren yang sudah dipukul-pukul seminggu yang lalu kemudian disayat. Air aren dibiarkan mengalir memenuhi wadah penampung, wadah tersebut akan diambil kembali saat sore tiba untuk kemudian dimasak.

aren
Proses pengolah aren oleh ibu-ibu Samarkilang (Dok. Raihal Fajri)

Dalam proses pengolahan, perempuan mengambil peran secara keseluruhan. Mulai dari memasak air aren, menghaluskan, hingga proses packing dan pemberian label.

Samarkilang merupakan ibu kota Kecamatan Syiah Utama, Kabupaten Bener Meriah, Aceh. Butuh waktu kurang lebih empat jam dari Simpang Tiga Redelong. 

Samarkilang termasuk ke dalam Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) yang kaya akan flora dan fauna serta memiliki empat satwa kunci yaitu Harimau Sumatera, Gajah Sumatera, Badak Sumatera, dan Orang Utan Sumatera.

Terletak di lereng hutan menjadikan tempat ini sering longsor. Hutan yang semakin banyak dirambah menjadi permasalahan tersendiri. Apabila hujan lebat, akan terjadi longsor sehingga menutupi jalan dan mengganggu akses ekonomi di Samarkilang.

Raihal Fajri, Direktur Katahati Institute, sadar melarang masyarakat tanpa memberikan alternatif yang tepat bukanlah pilihan baik, karena setiap masyarakat butuh penghidupan yang layak.

Pada 2019, Katahati Institute dengan bantuan Kedutaan Kanada untuk Indonesia dan Timor Leste membuat sebuah program pelatihan dan pendampingan kelompok perempuan di Samarkilang dalam memanfaatkan hasil hutan bukan kayu untuk ekonomi berkelanjutan. 

Hasil hutan bukan kayu dapat dimanfaatkan sebagai olahan seperti aren (arenga pinnata) dan Ubi Hutan (Dioscorea hispida Dents).

Kata Raihal, program tersebut bertujuan untuk penguatan kapasitas perempuan dalam pengelolaan hasil hutan bukan kayu untuk ekonomi berkelanjutan. Samarkilang dipilih karena banyak permasalahan yang kerap dihadapi perempuan di sana.

Mulai dari akses mobilisasi di daerah terpencil, pendidikan yang sangat minim, akses kesehatan yang kurang, hingga keterlibatan perempuan yang kerap abstain dalam pengambilan kebijakan desa.

“Awal kita memilih Samarkilang adalah karena berbagai macam permasalahan di sana, baik dari perempuan, pendidikan, dan kesehatan. Padahal potensi di sana sangat besar seperti pemanfaatan hasil hutan bukan kayu dan seperti yang kita ketahui, bahwa perempuan adalah agen untuk perubahan, salah satunya dalam melindungi hutan. Katahati Institute hadir dengan program penguatan kapasitas perempuan, hasil hutan bukan kayu, dan ekonomi berkelanjutan,” imbuhnya (30/11/2022).

Setelah masyarakat Samarkilang sepakat untuk mengolah hasil hutan bukan kayu yaitu aren dan janeng, karena memiliki filosofi, tim Katahati Institute pun memberi pelatihan dan pendampingan cara pengolahan kedua tumbuhan itu untuk diproduksi selanjutnya dijual.

Tak hanya ibu-ibu dan remaja putri, kaum bapak-bapak pun dilibatkan karena dalam proses pengambilan bahan baku janeng dan aren membutuhkan skill khusus.

Sejak awal program itu dijalankan dari 2019 sampai 2022, Katahati Institute sudah berhasil melakukan pembinaan hasil hutan bukan kayu pada sembilan desa di Samarkilang.

“Sampai saat ini kita telah melakukan program pembinaan pada sembilan desa di Samarkilang, dan kita akan terus melanjutkan program ini ke kecamatan lainnya,” pungkas Raihal, Direktur Katahati Institute (30/11/2022).

Hingga kini, produk hasil olahan aren dan janeng milik masyarakat Samarkilang sudah dipasarkan hingga keluar kota, bahkan baru-baru ini, produk tersebut dipamerkan pada acara G20 Bali dimana para petinggi dari 20 negara berkumpul.

“Alhamdulillah produk olahan kita dari janeng dan aren bisa kita pamerkan di acara G20 Bali,” ucap Raihal (30/11/2022).

Tags: bener meriahhutanjanengsamarkilangubi
ShareTweetPin
Previous Post

Gojek Mitra Kamtibmas Medan Serahkan Bantuan ke DDW untuk Korban Gempa Cianjur

Next Post

Anggota DPRA Minta Kurikulum Dayah Terpadu Dirancang dan Dikembangkan Secara Sistematis

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU

Fahmi M Nasir: Baitul Mal Gampong Harus Mampu Lahirkan Muzakki dan Wakif Baru

Fahmi M Nasir: Baitul Mal Gampong Harus Mampu Lahirkan Muzakki dan Wakif Baru

Rabu (22/07/2026) - 15:48 WIB
Dilantik Jadi Wakil Rektor II UTU, Ini Profil Dr Mursyidin

Dilantik Jadi Wakil Rektor II UTU, Ini Profil Dr Mursyidin

Senin (20/07/2026) - 15:46 WIB
Dayah Darul Quran Aceh Gelar Silaturahmi dan Serah Terima Santri Baru

Dayah Darul Quran Aceh Gelar Silaturahmi dan Serah Terima Santri Baru

Minggu (19/07/2026) - 18:25 WIB
Dirut Bank Aceh Raih Pemred Award 2026 atas Komitmen Keterbukaan Informasi

Dirut Bank Aceh Raih Pemred Award 2026 atas Komitmen Keterbukaan Informasi

Minggu (19/07/2026) - 18:18 WIB
BPMA dan Medco E&P Malaka Gelar Aksi Tanam 1.000 Mangrove di Banda Aceh

BPMA dan Medco E&P Malaka Gelar Aksi Tanam 1.000 Mangrove di Banda Aceh

Minggu (19/07/2026) - 17:44 WIB
PSAF 2026 Siap Digelar, Paya Seunara Tawarkan Pesona Alam Pegunungan Sabang

PSAF 2026 Siap Digelar, Paya Seunara Tawarkan Pesona Alam Pegunungan Sabang

Sabtu (18/07/2026) - 22:41 WIB
Lensakita.com

© 2026 Lensakita.com | Menatap dunia lebih luas.

Navigate Site

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA

© 2026 Lensakita.com | Menatap dunia lebih luas.