Banda Aceh – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor asal Aceh pada April 2026 mencapai 56,99 juta dolar Amerika Serikat (AS). Nilai tersebut mengalami penurunan 3,93 persen dibandingkan Maret 2026, namun masih tumbuh 7,55 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kepala BPS Aceh, Agus Andria, mengatakan komoditas ekspor Aceh masih didominasi oleh batu bara yang menjadi penopang utama perdagangan luar negeri daerah.
“Pada April 2026, nilai ekspor asal Provinsi Aceh tercatat sebesar 56,99 juta dolar AS. Angka ini turun 3,93 persen dibandingkan bulan sebelumnya, namun meningkat 7,55 persen dibandingkan April 2025,” kata Agus Andria dalam rilis BPS Aceh, Kamis (4/6/2026).
Menurut Agus, dari total nilai ekspor tersebut, sebesar 45,58 juta dolar AS atau 79,97 persen diekspor melalui pelabuhan yang berada di Aceh. Sementara sisanya sebesar 11,39 juta dolar AS dikirim melalui pelabuhan di provinsi lain, yang mayoritas melalui Sumatera Utara.
Ia menjelaskan, India menjadi negara tujuan utama ekspor Aceh pada April 2026 dengan nilai mencapai 38,14 juta dolar AS. Komoditas yang paling banyak diekspor ke negara tersebut adalah batu bara.
“Setelah India, tujuan ekspor terbesar berikutnya adalah Thailand dengan nilai 4,49 juta dolar AS dan Vietnam sebesar 4,29 juta dolar AS. Kedua negara tersebut juga didominasi oleh ekspor batu bara,” ujarnya.
Secara keseluruhan, batu bara menjadi komoditas ekspor terbesar dengan nilai 45,57 juta dolar AS atau setara 79,95 persen dari total ekspor Aceh. Selain itu, komoditas kopi, rempah-rempah, serta berbagai produk kimia turut memberikan kontribusi terhadap ekspor daerah.
Di sisi lain, BPS mencatat nilai impor Aceh pada April 2026 mencapai 49,25 juta dolar AS atau meningkat 14,09 persen dibandingkan Maret 2026. Namun, nilai tersebut turun 3,07 persen dibandingkan April tahun sebelumnya.
Agus menyebutkan, Amerika Serikat menjadi negara asal impor terbesar ke Aceh dengan nilai 27,17 juta dolar AS, diikuti Aljazair sebesar 18,74 juta dolar AS dan Tiongkok sebesar 2,99 juta dolar AS.
“Impor Aceh masih didominasi oleh komoditas gas propana dan butana. Nilainya mencapai 45,91 juta dolar AS atau sekitar 93,20 persen dari total impor selama April 2026,” katanya.
Selain gas propana dan butana, impor Aceh juga didominasi bahan kimia anorganik yang berasal dari sejumlah negara mitra dagang.
Meski nilai impor mengalami peningkatan secara bulanan, Agus mengatakan kinerja perdagangan luar negeri Aceh masih menunjukkan hasil positif. Hal itu tercermin dari surplus neraca perdagangan sebesar 7,74 juta dolar AS pada April 2026.
“Karena nilai ekspor masih lebih tinggi dibandingkan impor, neraca perdagangan luar negeri Aceh pada April 2026 mencatat surplus sebesar 7,74 juta dolar AS,” ujarnya.
BPS juga mencatat bahwa dalam periode April 2025 hingga April 2026, neraca perdagangan luar negeri Aceh relatif berada pada kondisi surplus. Defisit hanya terjadi pada dua bulan, yakni Mei 2025 dan Oktober 2025.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kinerja perdagangan luar negeri Aceh sepanjang satu tahun terakhir masih cukup kuat, meskipun menghadapi fluktuasi nilai ekspor dan impor pada beberapa periode tertentu.[]










