Banda Aceh – Ramlah Sali binti Sali, warga Gampong Blang, Kecamatan Darussalam, Kota Langsa, menjadi jemaah haji tertua dari Embarkasi Banda Aceh pada musim haji 1447 Hijriah/2026 Masehi.
Perempuan berusia 101 tahun itu tergabung dalam kelompok terbang (kloter) BTJ-04 bersama jemaah asal Langsa, Lhokseumawe, Banda Aceh, dan Aceh Besar.
Meski telah berusia lebih dari satu abad, Ramlah masih tampak sehat dan mampu menjalani aktivitas sehari-hari secara mandiri. Ia mengaku tetap melakukan pekerjaan rumah seperti menyapu dan memasak.
“Kalau saya masih sanggup nyapu di rumah, masak,” kata Ramlah saat ditemui sebelum keberangkatan di Asrama Haji Embarkasi Banda Aceh, Jumat (8/5/2026).
Ramlah mengatakan dirinya didaftarkan berhaji oleh anak semata wayangnya sekitar lima tahun lalu, tepatnya pada 2021. Saat pendaftaran dilakukan, biaya perjalanan ibadah haji juga langsung dilunasi.
“Saya didaftarkan anak sudah lima tahun lalu sekitar 2021. Pas daftar anak waktu itu langsung dibayar lunas,” ujarnya.
Ia mengaku tidak memiliki pola hidup khusus untuk menjaga kesehatan di usia lanjut. Menurutnya, ia hanya menjalani kehidupan sederhana seperti biasa.
“Kalau orang tanya nenek makan apa bisa sehat begini? Ya mau makan apa, makan nasi,” ucapnya sambil tersenyum.
Dalam kesehariannya, Ramlah juga rutin menjalankan ibadah seperti salat dan zikir. Aktivitas itu menjadi bagian dari rutinitas yang dijalani di rumah.
“Ibadah seperti salat, zikir begitu. Ini kegiatan saya,” katanya.
Ramlah juga menyebut dirinya kerap berada sendiri di rumah saat pagi hingga siang hari karena anaknya bekerja.
“Di rumah pun saya sendiri di rumah. Kalau pagi anak saya kerja,” ujarnya.
Sementara itu, anak Ramlah, Mahmud (65), mengatakan dirinya lebih dahulu mendaftar haji sekitar 15 tahun lalu. Namun ia memilih menunda keberangkatan agar dapat berangkat bersama ibunya.
“Saya daftar duluan, 15 tahun lalu. Ibu saya daftar kemarin itu lima tahun lalu,” kata Mahmud.
Menurut Mahmud, dirinya sebenarnya telah mendapat jadwal keberangkatan pada tahun lalu bersama sang istri. Namun karena ibunya belum masuk daftar keberangkatan, ia memutuskan menunda keberangkatan tersebut.
“Saya jatahnya berangkat tahun lalu bersama istri, cuma karena mamak tidak masuk list berangkat tahun lalu. Makanya saya tunda, dan Alhamdulillah berangkat tahun ini sama mamak,” ujarnya.
Mahmud yang sehari-hari bekerja sebagai petani mengatakan keputusannya berangkat bersama sang ibu juga agar dapat mendampingi dan membantu selama menjalankan ibadah haji.
“Saya kerjanya nyangkul di kampung, sebagai petani. Ya berangkat bareng mamak juga biar ada yang lihat juga,” katanya.
Meski telah lanjut usia, Mahmud menyebut kondisi ibunya hingga kini masih cukup kuat untuk beraktivitas di rumah.
“Mamak kegiatan di rumah alhamdulillah sekarang masih kuat, masih bisa masak dan hal-hal lain,” ujarnya.[]










