Rabu, Agustus 12, 2026
  • Login
Lensakita.com
Advertisement
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA
No Result
View All Result
Lensakita.com
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA
No Result
View All Result
Lensakita.com
No Result
View All Result
Home DAERAH

Resmi Dikukuhkan Jadi Profesor, Husaini Mengungkap Awal Islam di Aceh

Redaksi Oleh Redaksi
Rabu (13/11/2024) - 16:14 WIB
in DAERAH
0
Resmi Dikukuhkan Jadi Profesor, Husaini Mengungkap Awal Islam di Aceh

Prof. Dr. Husaini, M.A. foto: dok pribadi

BANDA ACEH – Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh resmi mengukuhkan gelar Profesor bagi Arkeolog Aceh, Dr. Husaini, MA, pada Rabu (13/11/2024). Acara yang berlangsung di Pusat Kegiatan Akademik Prof. Dr. Dayan Dawood, MA, ini menandai puncak karier akademis Dr. Husaini dalam bidang arkeologi dan sejarah Aceh, terutama terkait perkembangan Islam di Nusantara.

Prof. Dr. Husaini, M.A yang merupakan dosen Jurusan Pendidikan Sejarah di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) USK, memaparkan orasi ilmiahnya berjudul “Dari Lamuri ke Kampung Pande Hingga Nusantara: Analisis Perkembangan Islam Berdasarkan Bukti Arkeologi”. Dalam paparannya, ia mengupas bukti arkeologi mengenai awal masuknya Islam di Aceh serta perdebatan di kalangan sarjana tentang asal-usul dan jalur penyebaran Islam.

Menurut Prof. Husaini, terdapat dua teori utama mengenai awal mula masuknya Islam di Aceh, yaitu teori Barat dan teori Timur. Teori Barat, yang didukung oleh tokoh seperti Snouck Hurgronje dan Moquette, menyatakan bahwa Islam pertama kali masuk melalui Kerajaan Samudra Pasai di Aceh Utara sekitar tahun 1297 Masehi, yang dibuktikan oleh batu nisan Sultan Malik al-Salih.

“Sementara itu, teori Timur yang dipelopori oleh cendekiawan seperti Hamka dan Ali Hasjmy, menyebutkan bahwa Islam pertama kali masuk ke Aceh melalui wilayah Perlak di Aceh Timur pada abad ke-9 M, didukung oleh hasil seminar dan literatur kuno,” ujar Prof Husaini dalam orasi ilmiahnya.

Selain perbedaan waktu masuknya Islam, lanjut Husaini, kedua teori ini juga berbeda dalam menyebut asal kedatangan Islam ke Aceh. Teori Barat mengklaim bahwa Islam diperkenalkan oleh para pedagang dari India, sementara teori Timur berpendapat bahwa Islam dibawa langsung oleh para mubalig dari Arab.

Lebih lanjut, Prof. Husaini menjelaskan bahwa sebelum Islam, masyarakat Aceh telah memiliki struktur pemerintahan dan kearifan lokal yang kuat, serta menganut kepercayaan Hindu atau Budha. Namun, kemampuan mereka beradaptasi dengan perubahan menjadikan Islam mudah diterima sebagai ajaran baru.

Salah satu bukti penting yang menguatkan hipotesisnya adalah temuan batu nisan di Lamreh, Krueng Raya, Aceh Besar, yang menunjukkan bahwa kawasan tersebut merupakan salah satu pusat awal penyebaran Islam di Nusantara.

“Lamuri yang kemudian berpindah ke Kampung Pande memiliki jejak-jejak arkeologis yang memperjelas peran pentingnya dalam sejarah penyebaran Islam,” ungkap Prof. Husaini.

Ia menambahkan, batu nisan di wilayah tersebut terbuat dari bahan lokal dan memiliki tingkat keindahan seni batu yang tinggi, mencerminkan keahlian masyarakat setempat pada masa itu.

Lahir di Pidie pada 31 Desember 1960, Prof. Husaini telah menempuh pendidikan tinggi di bidang sejarah dan arkeologi, mulai dari sarjana di USK, magister di Universitas Indonesia, hingga doktor di Universiti Sains Malaysia.

Ia juga memiliki pengalaman panjang sebagai pengajar di USK sejak 1986 dan telah menduduki berbagai posisi, termasuk Ketua Program Studi Pendidikan Sejarah, Kepala Pusat Penelitian Ilmu Sosial dan Budaya, hingga Kepala Laboratorium Pendidikan Sejarah FKIP USK.

Dengan pengukuhan gelar Profesor ini, Prof. Husaini diharapkan dapat terus mengembangkan penelitian di bidang sejarah dan arkeologi Islam, khususnya terkait bukti awal peradaban Islam di Aceh, sekaligus memperkaya wawasan sejarah yang lebih mendalam bagi generasi muda di Aceh dan Indonesia. []

Tags: acehguru besar uskheadlineProf Husainiusk
ShareTweetPin
Previous Post

Gajah Jantan Ditemukan Mati di Jambi, Penyebabnya?

Next Post

YBM BRILiaN Salurkan 40 Paket School Kit untuk Santri di Rumah Tahfidz Nur Amnah

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU

Gubernur Mualem Minta Dukungan Mentan Pulihkan Sawah-Perkebunan Aceh Pascabencana

Realisasi Bantuan Kementan di Aceh Masih Rendah, Rp1,1 T Belum Terserap

Rabu (12/08/2026) - 15:53 WIB
BFLF dan BKKBN Soft Launching Sekolah Lansia, Dorong Lansia Tetap Aktif dan Berdaya

BFLF dan BKKBN Soft Launching Sekolah Lansia, Dorong Lansia Tetap Aktif dan Berdaya

Rabu (12/08/2026) - 15:50 WIB
Gelar Rakor Budaya, Pemerintah Ajak Masyarakat Tingkatkan Penggunaan Bahasa dan Aksara Aceh

Gelar Rakor Budaya, Pemerintah Ajak Masyarakat Tingkatkan Penggunaan Bahasa dan Aksara Aceh

Rabu (12/08/2026) - 15:07 WIB
Lapas Blangpidie Gelar Donor Darah dan Cek Kesehatan Gratis bagi WBP

Lapas Blangpidie Gelar Donor Darah dan Cek Kesehatan Gratis bagi WBP

Rabu (12/08/2026) - 15:04 WIB
Kemenag Aceh Besar Perkuat Ketahanan Keluarga, Piloting Pusaka Sakinah di Ingin Jaya

Kemenag Aceh Besar Perkuat Ketahanan Keluarga, Piloting Pusaka Sakinah di Ingin Jaya

Rabu (12/08/2026) - 14:59 WIB
Warul Walidin dalam Kenangan Mujiburrahman: Guru Bangsa dan Rektor Senior UIN Ar-Raniry

Warul Walidin dalam Kenangan Mujiburrahman: Guru Bangsa dan Rektor Senior UIN Ar-Raniry

Rabu (12/08/2026) - 14:57 WIB
Lensakita.com

© 2026 Lensakita.com | Menatap dunia lebih luas.

Navigate Site

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA

© 2026 Lensakita.com | Menatap dunia lebih luas.