Banda Aceh – Jumlah penumpang angkutan udara dan laut di Provinsi Aceh pada April 2026 mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya maupun periode yang sama tahun lalu.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh, Agus Andria, menyampaikan bahwa jumlah penumpang penerbangan domestik yang berangkat melalui Bandara Sultan Iskandar Muda pada April 2026 tercatat sebanyak 22.425 orang.
“Jumlah penumpang penerbangan domestik pada April 2026 mencapai 22.425 orang. Angka ini mengalami penurunan sebesar 1,89 persen dibandingkan Maret 2026. Jika dibandingkan dengan April 2025, penurunannya mencapai 9,10 persen,” kata Agus dalam keterangannya, Kamis (4/6/2026)
Selain penerbangan domestik, jumlah penumpang penerbangan internasional yang berangkat melalui Bandara Sultan Iskandar Muda juga menunjukkan tren penurunan. Pada April 2026, jumlah penumpang internasional tercatat sebanyak 8.740 orang.
“Penumpang penerbangan internasional yang berangkat melalui Bandara Sultan Iskandar Muda pada April 2026 sebanyak 8.740 orang. Jumlah tersebut turun 9,73 persen dibandingkan bulan Maret 2026 dan turun 26,65 persen dibandingkan April 2025,” ujarnya.
Sementara itu, sektor transportasi laut di Aceh juga mengalami penurunan jumlah penumpang. Secara total, jumlah penumpang angkutan laut yang naik di seluruh pelabuhan di Provinsi Aceh pada April 2026 mencapai 82.637 orang.
“Untuk angkutan laut, jumlah penumpang yang naik pada April 2026 tercatat sebanyak 82.637 orang. Jika dibandingkan dengan Maret 2026, jumlah tersebut turun 32,53 persen. Secara tahunan atau year-on-year, juga mengalami penurunan sebesar 26,77 persen dibandingkan April 2025,” jelas Agus.
Menurut BPS Aceh, data tersebut menunjukkan bahwa aktivitas transportasi penumpang, baik melalui jalur udara maupun laut, mengalami perlambatan pada April 2026. Penurunan terjadi baik secara bulanan (month-to-month) maupun tahunan (year-on-year), mencerminkan berkurangnya mobilitas penumpang dibandingkan periode sebelumnya.
Meski demikian, perkembangan sektor transportasi tetap menjadi salah satu indikator penting dalam memantau pergerakan ekonomi dan mobilitas masyarakat di Aceh. Data tersebut akan terus menjadi perhatian dalam evaluasi kinerja sektor transportasi dan aktivitas perjalanan masyarakat di daerah tersebut.[]









