Banda Aceh – Jemaah haji asal Kabupaten Aceh Jaya, Muhammad Amin Teunom (94), akhirnya mewujudkan impiannya menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci bersama sang istri, Zubaidah Hasan (84).
Pasangan lansia asal Gampong Blang, Kecamatan Krueng Sabee, itu tergabung dalam kelompok terbang (kloter) BTJ-09 bersama ratusan jemaah asal Aceh Selatan dan Nagan Raya.
Perjalanan Muhammad Amin menuju Baitullah bukanlah hal mudah. Selama puluhan tahun, ia menabung sedikit demi sedikit dari hasil berjualan ikan keliling.
“Saya dari tahun 80 mulai jualan ikan dengan sepeda. Lama-lama saya beli Honda Cup 70, jadi bisa pergi jualan lebih jauh,” ujar Muhammad Amin, Kamis (14/5/2026).
Usahanya terus berkembang. Setelah beberapa waktu, ia membeli becak untuk menunjang aktivitas berdagangnya. Dari hasil jualan tersebut, ia disiplin menyisihkan sebagian pendapatan demi mewujudkan cita-cita berhaji.
“Setelah itu saya beli becak, saya jualan dengan becak. Sehari bisa dapat uang sekitar Rp50 ribu, saya simpan Rp20 ribu, untuk belanja Rp30 ribu,” ujarnya.
Tidak hanya menabung uang, Muhammad Amin juga rutin membeli emas ketika memiliki rezeki lebih. Menurutnya, cara itu menjadi salah satu ikhtiar agar impian ke Tanah Suci dapat terwujud.
“Kalau dapat uang atau rezeki saya beli emas setengah mayam. Begitu terus kalau ada rezeki lebih,” katanya.
Niat untuk berhaji telah lama tertanam dalam dirinya. Sebelum mendapat kesempatan berhaji, Muhammad Amin lebih dahulu menunaikan ibadah umrah dan berqurban.
“Setelah beli emas, saya punya niat supaya saya bisa pergi haji. Ketika sudah punya uang, saya pergi umrah. Pulang umrah saya berqurban,” tutur dia.
Sementara itu, sang istri, Zubaidah Hasan, juga ikut berjuang membantu biaya perjalanan haji keluarga dengan berjualan kacang asin yang dititipkan ke kedai-kedai di sepanjang wilayah Calang hingga Teunom.
“Istri saya menabung dari jualan kacang asen, dititipkan ke kedai-kedai mulai Calang sampai Teunom,” ujarnya.
Pasangan ini diketahui telah mendaftar haji sekitar 2009 silam. Namun, keberangkatan mereka sempat tertunda karena sang istri belum memperoleh jadwal keberangkatan.
“Alhamdulillah sudah dipanggil tahun lalu. Saya nggak bisa pergi karena istri belum dapat berangkat,” katanya.
Di usia senjanya, Muhammad Amin mengaku masih mampu beraktivitas secara mandiri. Bahkan, ia memilih tidak menggunakan tongkat saat berjalan.
“Alhamdulillah kalau jalan pelan-pelan masih kuat. Saya nggak mau pakai tongkat,” ungkapnya.
Muhammad Amin juga bersyukur memiliki sembilan cucu yang menjadi penyemangat dalam hidupnya. Ia berharap kisah perjuangannya dapat menjadi motivasi bagi masyarakat untuk terus berikhtiar dan menjaga niat baik.
“Banyak orang kampung bertanya, bapak kan sudah umrah, qurban, ini mau pergi haji. Saya jawab, kita niat dalam hati. Kalau niat kita baik tentu Allah akan mudahkan,” kata Muhammad Amin.[]










