Minggu, Juli 12, 2026
  • Login
Lensakita.com
Advertisement
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA
No Result
View All Result
Lensakita.com
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA
No Result
View All Result
Lensakita.com
No Result
View All Result
Home DAERAH

Kepiting dan Rajungan, Apa Perbedaannya?

Redaksi Oleh Redaksi
Senin (14/10/2024) - 11:20 WIB
in DAERAH
0
Kepiting dan Rajungan, Apa Perbedaannya?

#image_title

 

  • Kepiting dan rajungan merupakan komoditas laut yang penting di Indonesia. Keduanya sama-sama kepiting, namun memiliki perbedaan.
  • Kepiting hidup di pesisir pantai terutama hutan mangrove, sehingga sering disebut sebagai kepiting bakau [Scylla spp]. Sedangkan rajungan [Portunus pelagicus], meski memiliki bentuk tubuh yang sama, namun lebih ramping dan memiliki kemampuan renang yang handal.
  • Dibandingkan kepiting bakau, rajungan memiliki kaki belakang lebih kecil dan berbentuk seperti dayung, sehingga menjadikannya sebagai perenang kuat.
  • Ciri umum rajungan adalah berwarna biru, terutama jantan. Sedangkan rajungan betina berwarna cokelat belang-belang.

 

Apakah kepiting dan rajungan jenis yang sama? Sekilas, penampakannya tiada perbedaan. Terlebih, ketika sudah diolah sebagai menu masakan.

Keduanya memiliki perbedaan, baik dari bentuk tubuh maupun habitat. Kepiting biasa disebut kepiting bakau, sebab habitatnya di seluruh perairan pantai, terutama yang ditumbuhi mangrove. Kepiting memiliki nama ilmiah Scylla spp, yang dalam Bahasa Inggris disebut mud crab.

Di Indonesia, ada empat spesies kepiting bakau yang berpotensi untuk dikembangkan, yakni Scylla serrata, Scylla tranquebarica, Scylla olivacea, dan Scylla paramamosain. Ciri-ciri utama yang digunakan untuk membedakan antarspesies ini adalah pada karapas dan lengan sepit atau cheliped.

Baca: Kepiting Bakau, Sumber Ekonomi Masyarakat Lorang, Kepulauan Aru

 

Kepiting bakau dari hutan mangrove di Lorang, Aru. Kepulauan Aru yang punya hutan mangrove lebat, menjaga keberlangsungan populasi kepiting. Foto: Ridzki R. Sigit/Mongabay Indonesia

 

Sementara rajungan, dikenal sebagai kepiting perenang ulung karena habitatnya di perairan dengan salinitas tinggi. Yaitu, dari tepi pantai dan bagian pesisir serta pada substrat berpasir dan berlumpur.

Hal ini menyebabkan, rajungan banyak dimanfaatkan secara langsung oleh nelayan karena dekat dengan tepi pantai. Kepiting rajungan memiliki nama ilmiah Portunus pelagicus atau dalam Bahasa Inggris disebut blue swimmer crab, karena secara umum tubuhnya ada yang berwarna biru dan handal ketika berenang.

Baca: Kepiting Bakau, Sumber Ekonomi Nelayan Langkat yang Tak Lagi Memukau

 

Ilustrasi. Seorang anak nelayan memperlihatkan kepiting bakau hasil tangkapannya di Desa Sungai Nibung, Kecamatan Teluk Pakedai, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Foto: YPI

 

Bentuk tubuh kepiting

Kepiting bakau memiliki capit sangat besar dan kuat, sehingga ketika menangkapnya, kita  harus hati-hati. Capit tersebut dapat berfungsi sebagai pertahanan diri dari ancaman.

Siklus hidup kepiting bakau meliputi beberapa tahapan, berupa larva yang disebut zoea, tahap megalopa, tahap kepiting muda atau remaja [juvenil], dan tahap kepiting dewasa. Pada siklus megalopa, tubuh kepiting bakau belum terbentuk sempurna.

Ketika remaja, fase ini disebut sebagai versi miniatur kepiting dewasa, dengan lebar sekitar empat milimeter. Diperkirakan sebulan setelah menetas, ketika lebarnya 10-20 milimeter, ia pindah ke muara dan menetap di daerah terlindung.

Baca: Spesies Baru, Kepiting Air Tawar Ini Memiliki Tubuh Tiga Warna

 

Inilah penampakan kepiting tiga warna, spesies baru yang ditemukan di Kalimantan Barat. Foto: BRIN

 

Dalam jurnal Triton, Universitas Pattimura, Ambon, berjudul “Struktur Morfologis Kepiting Bakau” karya Laura Siahainenia, dijelaskan bahwa secara umum struktur morfologi tubuh kepiting bakau terdiri karapas, abdomen, lima pasang kaki, mulut, antene, dan mata.

Kepiting bakau memiliki bentuk karapas agak bulat, memanjang, pipih, sampai agak cembung. Panjang karapas, kurang lebih dua per tiga dari ukuran lebarnya. Secara umum, karapas terbagi empat area, yaitu: pencernaan [gastric region], jantung [cardiac region], pernapasan [branchial region], dan area pembuangan [hepatic region].

Kepiting bakau memiliki lima pasang kaki, yang terletak pada bagian kiri dan kanan tubuh, yaitu: sepasang cheliped, tiga pasang kaki jalan [walking leg], dan sepasang kaki renang [swimming leg]. Tiap kaki, terdiri enam ruas, yaitu coxa, basi-ischium, merus, carpus, propondus, dan dactylus.

“Seperti krustasea umumnya, kepiting bakau juga memiliki sepasang antene, yang berada  pada bagian dahi karapas, yakni antara kedua rongga mata,” tulis Laura.

Antene berfungsi untuk mendeteksi bahaya melalui gerakan angin. Selain itu, antene merupakan organ peraba dan perasa yang dapat mendeteksi detil perubahan pada pergerakan air dan kimia air.

Baca: Kepiting Kenari, Kepiting Terbesar di Dunia yang Suka Makan Kelapa

 

Kepiting kenari yang merupakan kepiting terbesar di dunia. Foto: Christopel Paino/Mongabay Indonesia

 

Bentuk tubuh rajungan

Dibandingkan kepiting bakau, bentuk tubuh rajungan lebih ramping. Dikutip dari Western Australian Museum, rajungan memiliki kaki depan bercakar besar yang digunakan untuk berburu dan bertahan.

Kaki belakangnya lebih kecil dan berbentuk seperti dayung, sehingga menjadikannya sebagai perenang kuat. Bagian atas cangkangnya dikenal sebagai karapas; berbentuk lebar, datar dan bermata seperti gigi tajam. Gigi terakhir di setiap sisi terlihat jelas, menyerupai tanduk.

Baca: Ini Uniknya Rajungan, Si Kepiting Berenang dari Lautan

 

Seekor rajungan (Portunus pelagicus) di perairan Gilimanuk, Bali. Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia

 

Rajungan jantan berwarna biru dan betina cokelat belang-belang. Secara umum, siklus hidup rajungan memiliki kemiripan kepiting bakau. Namun untuk rajungan dewasa, biasanya mendiami lantai berpasir di perairan laut, seperti teluk dan muara. Selama tahap awal siklus hidupnya, larva kepiting ini mengambang di permukaan air hingga 80 kilometer dari garis pantai.

“Ada beberapa cara untuk mengidentifikasi rajungan jantan dan betina. Salah satu cirinya adalah warna. Selain itu, jantan berukuran lebih besar daripada betina,” tulis peneliti.

Cara lainnya adalah dengan memeriksa bentuk tutup perut bagian bawah. Rajungan jantan memiliki bentuk sempit dan bersudut, sedangkan betina lebih lebar dan melengkung.

Baca: Mengenal Rajungan, Si Kepiting yang Pandai Berenang

 

Rajungan merupakan salah satu komoditas unggulan di sektor perikanan. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia

 

Kepiting rajungan merupakan komoditas dengan nilai tinggi di Indonesia. Bahkan nilai ekspornya menembus angka 448 juta dollar Amerika tahun 2023. Sebagian besar penangkapan kepiting rajungan dilakukan oleh nelayan skala kecil.

Namun, pemanfaatan yang terus menerus membuat stok rajungan mengalami kondisi penangkapan berlebih atau over exploited. Terutama, di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia [WPP-NRI] 712 yang dikenal sebagai pemasok rajungan, baik untuk pasar domestik ataupun internasional.

Baca juga: Rajungan: Populer di Luar Negeri, Terancam di Dalam Negeri

 

Rajungan yang memiliki bentuk tubuh lebih ramping dibandingkan kepiting. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia

 

Seperti dilansir Mongabay sebelumnya, salah satu sebab menurunnya populasi rajungan adalah permintaan ekspor yang sangat tinggi ke berbagai negara, seperti tujuan Amerika Serikat. Selain itu, faktor penggunaan alat penangkapan ikan [API] ikut memberi dampak besar.

 

Bukan Monster, Memang Begini Penampakan Kepiting Purba

 

Sumber: Mongabay.co.id

ShareTweetPin
Previous Post

Budi daya Lobster Diresmikan Menteri Trenggono di Batam, Bisakah Mengatasi Penyelundupan?

Next Post

Muhammad Nuh: Menolak Lupa, Terus Perjuangkan Kemerdekaan Palestina

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU

Wali Kota Sabang Imbau Ayah Antar Anak di Hari Pertama Sekolah

Wali Kota Sabang Imbau Ayah Antar Anak di Hari Pertama Sekolah

Minggu (12/07/2026) - 16:54 WIB
PSSI Aceh Gratiskan Tiket Nonton Piala Soeratin U-17 hingga Final

PSSI Aceh Gratiskan Tiket Nonton Piala Soeratin U-17 hingga Final

Minggu (12/07/2026) - 16:52 WIB
Bendungan Keureuto dan Rukoh Resmi Beroperasi, Mualem Sampaikan Terima Kasih kepada Presiden

Bendungan Keureuto dan Rukoh Resmi Beroperasi, Mualem Sampaikan Terima Kasih kepada Presiden

Sabtu (11/07/2026) - 18:19 WIB
ITF UIN Ar-Raniry Bantu 86 Mahasiswa, Total Penyaluran Dana UKT Tembus Rp2,06 Miliar

ITF UIN Ar-Raniry Bantu 86 Mahasiswa, Total Penyaluran Dana UKT Tembus Rp2,06 Miliar

Jumat (10/07/2026) - 20:50 WIB
Presiden Prabowo Resmikan Bendungan Rukoh dan Keureuto, Sekda Aceh Hadiri Peresmian di Pidie

Presiden Prabowo Resmikan Bendungan Rukoh dan Keureuto, Sekda Aceh Hadiri Peresmian di Pidie

Jumat (10/07/2026) - 20:47 WIB
BPMA dan Polda Aceh Evaluasi Pengamanan Obvitnas di Blok A Medco Aceh Timur

BPMA dan Polda Aceh Evaluasi Pengamanan Obvitnas di Blok A Medco Aceh Timur

Jumat (10/07/2026) - 08:38 WIB
Lensakita.com

© 2026 Lensakita.com | Menatap dunia lebih luas.

Navigate Site

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA

© 2026 Lensakita.com | Menatap dunia lebih luas.