Minggu, Juni 14, 2026
  • Login
Lensakita.com
Advertisement
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA
No Result
View All Result
Lensakita.com
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA
No Result
View All Result
Lensakita.com
No Result
View All Result
Home INTERNASIONAL

Kudeta CIA di Masa Lalu Hantui Iran Hingga Sekarang

Redaksi Oleh Redaksi
Sabtu (26/08/2023) - 09:24 WIB
in INTERNASIONAL
0
Mohamad Mossadegh. CIA mendorong kudeta 70 tahun lalu untuk menggulingkan Perdana Menteri Iran Mohammad Mossadegh.

#image_title

 TEHERAN — CIA mendorong kudeta 70 tahun lalu untuk menggulingkan Perdana Menteri Iran Mohammad Mossadegh. Hingga kini, warisan kudeta tersebut masih menjadi perdebatan dan rumit bagi negara tersebut karena ketegangan yang masih tinggi dengan Amerika Serikat (AS).


Meski disorot sebagai simbol imperialisme Barat oleh teokrasi Iran, kudeta yang menggulingkan Mossadegh pada saat itu tampaknya didukung oleh ulama Syiah terkemuka di negara tersebut.


Namun saat ini, televisi pemerintah garis keras Iran berulang kali menyiarkan segmen yang menggambarkan kudeta tersebut sebagai pertunjukkan sikap AS tidak dapat dipercaya. Sementara pihak berwenang juga melarang masyarakat mengunjungi makam Mossadegh di sebuah desa di luar Teheran.


Konflik semacam ini biasa terjadi di Iran, dengan slogal “Matilah Amerika” masih terdengar saat salat Jumat di Teheran. Sementara banyak orang di jalanan mengatakan mereka akan menyambut baik hubungan yang lebih baik dengan AS.

 


Tapi kenangan akan kudeta semakin memudar seiring dengan hilangnya ingatan akan peristiwa tersebut. “Mungkin AS melakukan ini karena takut akan munculnya kekuatan Uni Soviet, tetapi hal ini seperti mengharapkan gempa bumi untuk menyingkirkan tetangga yang jahat,” kata Rana, seorang pelukis berusia 24 tahun


Bagi masyarakat Iran, menurut Rana, dendam tidak pernah mencair. Kudeta pada Agustus 1953 bermula dari ketakutan AS terhadap Uni Soviet yang semakin menginginkan bagian dari Iran ketika komunis bergejolak di negara tersebut.


Tindakan ini sebagian dilakukan oleh Inggris, yang ingin merebut kembali akses terhadap industri minyak Iran, yang telah dinasionalisasi sebelumnya oleh Mossadegh. Meskipun awalnya tampak gagal, kudeta tersebut menggulingkan Mossadegh dan memperkuat kekuasaan Shah Mohammad Reza Pahlavi.


Peristiwa itu juga memicu Revolusi Islam pada 1979. Syah yang sakit parah melarikan diri dari Iran dan Ayatollah Ruhollah Khomeini mengantarkan rezim teokrasi yang masih memerintah negara tersebut hingga sekarang


Saat ini, beberapa orang yang berbicara mengenai kudeta mengatikan hubungan tidak akur dengan AS yang menyebabkan ekonomi Iran yang sedang melemah. Teheran terpukul oleh sanksi bertahun-tahun setelah gagalnya keberlanjutan perjanjian nuklir pada 2015 dengan negara-negara besar.


Padahal menurut warga Iran bernama Hossein, ketegangan dengan AS akan mendatangkan lebih banyak uang bagi bisnisnya. “Sekarang pengemudi taksi menghabiskan lebih sedikit uang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya dan hal ini disebabkan oleh hubungan buruk dan sanksi,” ujar pria berusia 47 tahun yang mengelola kantin untuk supir taksi di Teheran selatan.


“Saya tahu tentang sejarah pahit ini tetapi ini akan segera berakhir,” kata Majid Shamsi yang bekerja sebagai pengantar parsel di pusat kota Teheran.


“Kaum muda di Iran mencari kehidupan yang lebih baik dan hal ini tidak bisa terjadi karena permusuhan dengan AS,” ujarnya.


Bahkan ketika protes yang semakin sering dilakukan oleh para guru, petani, dan pihak lain di Iran, beberapa nyanyian yang sering terdengar antara lain: “Musuh kita ada di sini, mereka berbohong kepada kami (bahwa musuhnya) adalah AS,” ujar orasi yang terdengar.


Seorang guru Reza Seifi menyatakan, Iran saat ini harus menerima kesepakatan dengan AS seperti yang mereka lakukan saat melepaskan warga negara ganda. “Saya membutuhkannya untuk masa depan saya yang lebih baik, untuk masa depan yang lebih baik bagi semua orang,” ujarnya.


Tapi, bagi Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, kudeta pada 1953 mewakili pandangan sebagai ancaman berkelanjutan dari AS. Khamenei mengatakan kepada anggota paramiliter Revolutionary Guard Iran pada pekan ini, bahwa AS telah merencanakan untuk menggulingkan teokrasi negara itu melalui kudeta seperti pada 1953 melalui militernya.


“Musuh mencoba melemahkan dan menyamakan menganalisis revolusi dengan menciptakan krisis yang berkelanjutan,” kata Khamenei, menurut transkrip di situs resminya.


“Mereka kemudian berencana mengakhiri revolusi dengan tindakan serupa dengan kudeta yang terjadi pada 19 Agustus (1953). Namun, (Revolutionary Guard) menggagalkannya. Inilah alasan mengapa musuh memiliki begitu banyak kebencian dan permusuhan terhadap ‘Revolutionary Guard’,” ujarnya.


Sebagai tanggapan, Panglima Revolutionary Guard Jenderal Hossein Salami berjanji untuk mengusir pasukan AS dari wilayah tersebut. Pernyataan itu muncul di tengah penumpukan besar-besaran militer AS di Teluk Persia. Kemungkinan pasukan itu menaiki dan menjaga kapal-kapal komersial di Selat Hormuz, yang merupakan jalur 20 persen dari seluruh pengiriman minyak.


Namun, beberapa pihak tetap berharap Iran dapat mencapai perdamaian dengan AS, seperti yang baru-baru ini dilakukan terhadap Arab Saudi. “Saya bermimpi bahwa pemimpin tertinggi mengizinkan pembicaraan dan hubungan yang lebih baik dengan AS. Dia mengizinkan pemulihan hubungan dengan Arab Saudi. Dia dapat mengizinkan hal yang sama untuk AS,” kata Mohsen berusia 29 tahun yang merupakan seorang penjual toko furnitur di Teheran utara.

sumber : AP

Sumber: Republika

Tags: kudeta cia di irankudeta iranmohamad mossadeghpenggulingan mohammed mossadegh
ShareTweetPin
Previous Post

Puan Menyeru Kader PDIP Jateng Rapatkan Barisan Menangkan Ganjar

Next Post

Dua Bayi Tertukar Diangkat Jadi Anak Asuh Polres Bogor

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU

Buka Perjusa MIN 27 Aceh Besar, Yahwa Tekankan Kemandirian, Ukhuwah, dan Jaga Ibadah

Buka Perjusa MIN 27 Aceh Besar, Yahwa Tekankan Kemandirian, Ukhuwah, dan Jaga Ibadah

Sabtu (13/06/2026) - 21:45 WIB
Dua Kloter Jemaah Haji Aceh Tiba di Madinah, Berikut Aktivitasnya

Jelang Kepulangan Jamaah Haji, PPIH Aceh Optimalkan Layanan Debarkasi

Sabtu (13/06/2026) - 21:42 WIB
Nurlis Effendi Ditunjuk sebagai Jubir Pemerintah Aceh

Pemerintah Aceh Berduka atas Wafatnya Mantan Gubernur Aceh Zaini Abdullah

Sabtu (13/06/2026) - 20:11 WIB
Mantan Gubernur Aceh Zaini Abdullah Wafat, Dimakamkan di Pidie

Mantan Gubernur Aceh Zaini Abdullah Wafat, Dimakamkan di Pidie

Sabtu (13/06/2026) - 14:22 WIB
UIN Ar-Raniry dan UINSU Medan Perpanjang Kerja Sama

UIN Ar-Raniry dan UINSU Medan Perpanjang Kerja Sama

Sabtu (13/06/2026) - 09:17 WIB
Deretan Artis Ibu Kota Bakal Meriahkan Pelantikan DPW PAN Aceh

Deretan Artis Ibu Kota Bakal Meriahkan Pelantikan DPW PAN Aceh

Jumat (12/06/2026) - 11:31 WIB
Lensakita.com

© 2026 Lensakita.com | Menatap dunia lebih luas.

Navigate Site

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA

© 2026 Lensakita.com | Menatap dunia lebih luas.